Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2016

Sederet Kuliner Khas Dayak Maanyan

Sebagai provinsi terbesar di Kalimantan, Kalimantan Tengah dikenal kuat dengan budaya Dayak. Sekitar 46,62 persen dari seluruh jumlah penduduk di provinsi itu adalah etnis Dayak. Selain itu orang dari suku Jawa dan Banjar juga banyak tinggal di Kalimantan Tengah. Hal ini pun memengaruhi kuliner dari Kalimantan Tengah ini pun mayoritas adalah makanan khas suku Dayak.

Wisata kuliner yang terkenal dari provinsi yang beribukota Palangkaraya ini antara lain juhu umbut rotan, juhu umbut sawit dan kalumpe. Makanan tersebut merupakan makanan asli orang Dayak di Kalimantan Tengah.

Juhu Umbut Rotan

Ya, rotan pun bisa dijadikan bahan untuk membuat masakan yang enak, seperti yang di ada di Kalimantan Tengah. Namanya umbut rotan yang merupakan kuliner yang dimiliki suku Dayak. Umumnya umbut rotan dikenal dengan uwut nang'e.

Makanan ini cukup unik karena memakai bahan dasar rotan muda atau tunas yang tumbuh pada pangkal rotan.

Sama seperti rebung pada bambu, tekstur pada rotan muda itu masih kenyal dan tidak keras seperti rotan yang sudah tua. Namun ada perbedaan, yaitu umbut rotan ini hanya bisa di gunakan sebagai sayur. Tidak seperti rebung yang bisa di gunakan sebagai bahan makanan lainnya.

Rasa dari rotan muda sedikit pahit dan gurih, sehingga membutuhkan bumbu khusus dalam proses memasaknya.

Cara pengolahannya, pertama rotan muda dibersihkan kulitnya, kemudian dipotong dalam ukuran kecil. Biasanya umbut rotan dimasak bersama dengan ikan baung dan terong asam.

Bicara soal rasa, juhu umbut rotan mempunyai rasa gurih, asam, dan kepahit-pahitan yang terpadu dengan rasa manis dari daging ikan. Ini yang menjadikan juhu umbat rotan memilki ciri khas yang unik.

Juhu Singkah Enyuh

Nah, makanan yang satu ini dimasak dengan memakai umbut kelapa atau singkah enyuh. Umbut kelapa ini berupa pucuk bakal batang kelapa yang belum jadi yang letaknya tepat di atas akar pada pohon kelapa yang usianya belum 1,5 tahun.

Melansir Tribun, bumbu yang dipakai untuk memasak juhu singkan enyuh sebenarnya sederhana saja seperti pada umumnya bumbu yang digunakan masakan Indonesia, seperti lengkuas, jahe, bawang merah dan putih, kemiri, serai, cabai, kunyit, terasi, dan daun jeruk purut. Keunikan terasa pada irisan-irisan umbut kelapa yang empuk, gurih dan berempah.

Juhu Umbut Sawit

Juhu umbat sawit adalah nama sayuran yang merupakan ciri khas suku Dayak Ngaju yang disajikan pada saat acara syukuran atau pesta pernikahan.

Kalau di Pulau Jawa, Anda mengenal sayur rebung, sayuran yang terbuat dari inti (bongkol) pohon bambu, maka sayur singkah ini juga berasal dari bongkol. Tapi, sayuran ini bukan diambil dari bongkol pohon bambu tapi bongkol pohon kelapa.

Bentuk dan warnanya tidak jauh berbeda dengan rebung yaitu putih. Tapi beda di rasa, sayuran ini jauh lebih manis bila dibandingkan dengan rebung. Ini mungkin karena asalnya dari kelapa.

Tak heran bila suku Dayak menyukai sayuran ini masih dalam kondisi mentah (belum dimasak). Biasanya juhu umbut sawit akan dimakan dengan dicampur dengan sambal.

Dikatakan Muliyani, dari bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, mengutip Tempo, keberadaan sayur umbut kelapa ini sudah ada sejak zaman leluhur orang Dayak. Juhu umbut sawit, menjadi hidangan wajib pada upacara-upacara adat zaman dulu.

Kalumpe

Kalumpe atau juga disebut dengan karuang adalah sayuran yang dibuat dari daun singkong yang ditumbuk halus. Kalumpe sebenarnya adalah bahasa Dayak Maanyan dan karuang sebutan sayur ini dalam bahasa Dayak Ngaju.

Cara membuat kalumpe dengan menumbuk halus daun singkong dan dicampur dengan terong kecil atau terong pipit. Lalu diitambahkan bumbu bawang merah, bawang putih, serai dan lengkuas yang dihaluskan. Ditemani dengan sambal terasi dan nasi panas, kalumpe menjadi hidangan yang sulit untuk ditolak.

Sekian info mengenai deretan kuliner dayak maanyan...

Jumat, 20 Mei 2016

Wadi: Seri Kuliner Dayak Maanyan Jilid 3

          Wadi adalah makanan berbahan dasar ikan atau menggunakan daging babi. Wadi bisa dibilang adalah makanan yang "dibusukan". Namun pembusukan ini tidak dibiarkan begitu saja, sebelum disimpan, ikan atau daging akan dilmuri dengan bumbu yang terbuat dari beras ketan putih atau bisa juga biji jagung yang di-sangrai sampai kecoklatan kemudian di tumbuk manual atau di blender.

          Dalam bahasa Dayak Maanyan bumbu ini disebut dengan Sa'mu dan dalam bahasa Dayak Ngaju disebut dengan Kenta. Pembuatannya yaitu ikan atau daging yang hendak diolah dibersihkan terlebih dahulu, kemudian direndam selama 5-10 jam dalam air garam.

         Kemudian daging atau ikan diangkat dan dibiarkan mengering. Setelah cukup kering ikan atau daging dicampur dengan Sa'mu sampai merata. Kemudian daging disimpan dalam kotak kaca, stoples, atau plastik kedap udara yang ditutup rapat-rapat.

          Simpan kurang lebih selama 3-5 hari. Untuk daging disarankan simpan lebih dari 1 minggu. Setelah selesao, wadi tidak bisa langsung dimakan tapi harus diolah kembali antara lain dengan cara digoreng atau dimasak.


          Walau pembuatannya terlihat mudah, tetapi apabila terjadi kesalahan sedikit saja dalam memasukan bumbu serta perendaman maka akan membuat wadi menjadi tidak enak bahkan tidak bisa dimakan. Oleh karena itu ada orang-orang tertentu yang memilki keahlian untuk membuat wadi yang enak.

Ini dia blog saya mengulas tentang apa itu Wadi?
tetap ikuti kelanjutannya...

Kamis, 19 Mei 2016

Seri Buah Khas Dayak Maanyan

     Berbagai daerah mempunyai berbagai buah khas dan punya rasa yang khas, Dorong tempat sata tinggal pun punya buah yang unik dengan nama AMUSISIN.
     Buah ini juga dikenal dengan nama karamunting. buah ini sangat mungil dengan rasa yang sangat manis dan hanya terdapat pada tanah gambut,tapi tidak sembarang tanah bisa ditumbuhinya. buah ini juga bisa bersaing dengan buah-buah yang biasa sikonsumsi.

      Karamunting ini banyak ditemukan di kampung saya… kalau boleh bernostalgia sejenak, berburu buahnya sewaktu saya masih kecil merupakan sebuah kesenangan tersendiri, bagaimana tidak pohon-nya yang hanya setinggi orang dewasa, tidak perlu memanjat untuk mendapatkan buahnya, dengan hanya berjinjit sedikit maka buah karamunting pun sukses dipetik… lebih serunya kalau dilakukan rame-rame, bermodalkan kantong plastik (kresek) kecil, semuanya bersaing untuk mendapatkan buah paling banyak… walaupun ujung-ujungnya tidak termakan semuanya.

     Namanya buah Karamunting. Hhm… nama nya sedikit aneh tapi rasanya enak . Waktu kecil saya dan teman-teman sering sekali mencari buah karamunting  di semak-semak di kebun kakek, Entah mengapa kali ini saya ingat dan kangen dengan buah yang satu ini. Di kebun kakek banyak sekali tumbuhan Karamunting yang tumbuh dengan sendirinya dan ada juga yang di tanam, tumbuhan ini kata kakek.


      Dan saya juga mencari tau maanfaat dari buah karamunting ini.
Berikut manfaat buah Karamunting

1. Hemostasia
Buah Karamunting menunjukkan efek hemostatik dalam saluran pencernaan bagian atas dan melawan Metrorrhagia penyebab pendarahan pada wanita. Akar Karamunting juga bisa meningkatkan jumlah trombosit, meningkatkan tingkat fibrinogen, dan otot kontrak pembuluh darah halus.

2. Efek adaptif
Buah Karamunting meningkatkan tingkat hemoglobin dan jumlah sel darah merah. Hal ini juga meningkatkan antianoxic, rasa dingin dan kemampuan melawan kelelahan organisme.

3. Anti-bakteri
Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa buah Karamunting dan ekstrak akar menghambat Staphylococcus aureus penyebab nanah. Karamunting juga menghambat E. coli dan Staphylococcus aureus penyebab nanah.

Hahaha.. inilah artikel saya dalam sesi buah khas dayak maanyan...ikuti trus artikel saya...


Senin, 16 Mei 2016

Seri Kuliner Dayak Maanyan Jilid 2

Papai, Pakasem Baya Gaguduh Nanakan
          Makanan berikut ini memang tidk bisa diklaim khas dayak Maanyan, namun sudah dikenal oleh masyarakat dayak Maanyan sejak jaman dahulu.

1. Papai
          Papai dikenal juga oleh Dayak Dayak yang lain, maupun suku bangsa yang lain. Dayak Ngaju menyebutnya sebagai mandai. Sebagian menyebutnya dame atau  dami. Makanan ini terbuat dari kulit cempedak yang telah dibuang kulit luarnya yang tipis. Kulit yang sudah dikupas diberi garam secukupnya. Papai ini enaknya digoreng saja, baik kering maupun dioseng basah. Kalau menginginkan rasa papai yang manis dan lunak, maka segera sesudah dikupas dan diberi garam sedikit langsung digoreng, kalau menginginkan papai yang agak kecut dan dagingnya sedikit keras rendam dulu dalam air garam 1-2 malam, lebih dari 1-2 malam papai kecut tapi lunak. Saya sendiri suka papai yang asam diiris tipis tipis digoreng kering dengan irisan bawang Bombay yang banyak dan irisan cabe rawit plus sedikit MSG, enak sekali.

Dahulu orang menyimpan papai dalam guci atau stoples selama berbulan bulan, sebagai persediaan. Karena papai bukan dianggap sebagai sayur namun juga pengganti daging sebagaimana tempe dan tahu.

2.  Gaguduh Nanakan

          Nanakan atau cempedak (Artocarpus cempeden) juga enak digoreng sebagaimana membuat pisang goreng, namun yang paling enak digoreng di atas api kecil dan agak lama, sehingga biji di dalamnya betul betul matang, sehingga selain daging cempedak , bijinya juga bisa dinikmati. Biji cempedak juga enak direbus, sampai kulitnya terkelupas, biji ini mengandung karbohidrat yang tinggi.

3.  Pakasem

          Sebagaian daerah menyebutnya pakasam, namun di Malaysia Timur (Kalimantan) pakasam sama dengan “wadi”. Jadi bukan pakasem. Pembuatan pakasem hampir sama dengan wadi, namun yang menjadi pengawetnya adalah garam dan nasi dingin. Penyimpanannya sama dengan pembuatan wadi (lihat tulisan saya terdahulu), namun dalam waktu tiga hari sudah “jadi”, semakin lama pakasem, daging dan tulang ikan atau daging yang dipakasem menjadi lunak. Sangat enak pembaca…seperti rasa wadi, namun lebih asam.

Rabu, 11 Mei 2016

Paing, Kuliner Suku Dayak Maanyan

Paing dalam bahasa Maanyan adalah sebutan untuk kelelawar besar pemakan buah, dalam bahasa Indonesia di sebut Kalong. Sementara Dayak Ngaju menyebut paing dengan bangamet/bangamat. Apa itu Paing?

Secara klasifikasi taksonomi, paing atau Kelalawar Besar/Kalong (Pteropus vampyrus) termasuk dalam kelas mamalian ordo chiroptera. Paing yang bisa di Konsumsi adalah dari family pteopodidae yang merupakan jenis terbesar dan pamakan buah dan nectar bunga.  Selain paing ada juga jenis yang bisa di makan yaitu kekek (lebih kecil dan pamakan buah, namun baunya kurang khas) dan juris yaitu jenis kelalawar kecil yang bersarang/bersembunyi dalam buku bamboo di hutan. Intinya jenis kelawar yang bisa di makan adalah kelelawar pemakan buah dan bunga. Sementara jenis pemakan serangga bahkan pengisap darah adalah jenis yang tidak boleh dimakan.

Kelelawar memiliki spesies yang banyak, menempati urutan kedua setelah mamalia binatang pengerat. Dari 4.000 spesies mamalia, 1000 diantaranya merupakan spesies kelelawar. Untuk mengelompokkannya, kelelawar dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu diberi nama “Megachiroptera” dan “Microchiroptera”. Selain itu dapat dikelompokkan berdasarkan makanan dan kapasitasnya. Kelelawar dengan bentangan sayap 2 meter dan berat mencapai 1,5 Kg dimasukkan dalam kelompok Megachiroptera atau terkenal dengan sebutan “Kalong”. Ciri-ciri kalong atau paing adalah matanya besar, karena tidak mempunyai sistem ekolokasi. Menemukan makanan berupa buah-buahan dan bunga-bungaan dengan mengandalkan penglihatan dan penciuman. Kelelawar yang tinggal di daerah Asia dan Afrika bertubuh kecil, memakan serbuk sari, lebar dua sayapnya 30 cm dengan berat 15 gr. Kelelawar ini termasuk dalam kelompok Microchiroptera dengan sistem ekolokasi yang lebih baik tetapi penglihatannya kurang jelas.

Orang-orang di kawasan timur Indonesia menyebutnya paniki, niki atau lawa. Orang Sunda menyebutnya lalay, kalong atau kampret. Orang Jawa Tengah menyebutnya lowo, codot, lawa, atau kampret. Sedangkan suku Dayak malah menyebutnya sebagai hawa, prok, cecadu, kusing tayo, paing atau bangamet/bangamat.

Walaupun paing dikenal dan dikonsumsi di beberapa daerah, Dayak maanyan punya ciri khas dalam memasaknya. Paing yang akan dimasak hanya dibuang kuku, bulu kasar di tekuk dan punggung, serta ususnya. Sementara sayap, bulu serta dagingnya juga di masak, karena rasanya akan lebih enak dan khas.

Memasak paing ala Dayak Maanyan menggunakan bumbu minimalis, yaitu hanya serai dan daun asam pikauk/ sejenis daun yang rasanya asam. Kalau tidak ada bisa diganti dengan asam jawa sedikit dan kalau suka bisa ditambahkan irisan bawang merah. Penggunaan bumbu yang minimalis ini adalah untuk mempertahankan rasa dan aroma asli dari paing atau kalong tersebut.

Ada 3 jenis masakan paing yang paling umum bagi masyarakat Dayak Maanyan, yang pertama adalah di masak seperti sop tanpa sayur dengan bumbu minimalis seperti tersebut di atas. Versi kedua adalah dicampur dengan sayur hati batang pisang atau siwak yang diiris tipis dan diremas remas terlebih dahulu. Namun ingat hati batang pisang yang digunakan adalah dari jenis pisang yang “netral” yaitu pisang kapas/pisang pinang atau pisang manurun. Pisang jenis lain cenderung mempunyai rasa yang sepet/pahit. Selanjutnya versi ke tiga adalah dicampur dengan sulur keladi/lantar keladi yang telah dikupas dan dipotong potong. Tentu saja menggunakan bumbu yang minimalis untuk mempertahankan rasa asli yang khas dari paing tersebut. Saya sendiri paling menyukai yang dicampur sayur sulur keladi.

Sementara Dayak Ngaju dalam memasak bangamat/paing menggunakan bumbu yang banyak agar baunya hilang. Paing sebelum dimasak dikuliti terlebih dahulu, hanya dagingnya yang diambil dan dimasak baik dengan bumbu opor maupun kari.

Anda panasaran? Silakan mencoba….

Seri Kuliner Dayak Maanyan

Mengenal Berbagai jenis Sambal Khas Dayak Maanyan

Sambal merupakan hidangan pelengkap yang dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Kalau suku Jawa mengindentifikasi sambal adalah hidangan pelengkap dengan rasa pedas, maka suku Dayak terutama Dayak Maanyan secara umum mengidentifikasi bahwa rasa sambal adalah perpaduan serasi antara rasa pedas dan asam dengan aroma terasi. Oleh karena itu bahan dasar pembuatan sambal bagi orang Dayak Maanyan selain Lombok /cabe, bawang dan terasi juga berbagai bahan yang mempunyai rasa asam. Masyarakat Dayak Maanyan Benua Lima menyebut “sambal” bila berbentuk padat, namun bila berkuah cair, sambal tersebut disebut “pansuk”.

Berikut ini beberapa jenis sambal khas Dayak Maanyan ( sangat mungkin jenisnya serupa dengan Dayak Dayak yang lain), yang pernah saya makan dan saya tanyakan resepnya, bahkan hampir semuanya saya pernah membuatnya :

  •     Sambal Ramunia

Sambal ini berbahan dasar buah ramunia yang masih muda tau mentah. Ramunia adalah sejenis tumbuhan yang berbuah asam yang bisa dimakan dengan kulit kulitnya.  Buah ini bila masih mentah berwarna hijau, kalau matang berwarna kuning jingga ranum, dengan biji dalam berwarna ungu.  Cara membuat sambal ini cukup sederhana, yaitu dengan menghaluskan bahan mentah berupa cabe rawit, bawang merah, garam, gula atau MSG sedikit, dan terasi bakar. Bila bahan tersebut sudah halus masukan buah ramunia mentah yang diiris dan dimemarkan, aduk sampai merata, siap dihidangkan. Jenis sambal ini dibuat untuk sekali makan. Sambal ini cocok dikombinasikan dengan sayur rebus, lalapan, ikan bakar, ikan goreng, daging maupun sayur berkuah.

  •     Sambal Mangga Muda

Samabal ini berbahan dasar mangga muda, cara membuatnya sama dengan membuat sambal ramunia, hanya bahan asamnya diganti dengan mangga musa diserut halus, dan diaduk rata. Sambal ini sangat cocok sebagai cocolan ikan panggang atau ikan goreng, mantan para pembaca!

  •     Sambal sarai baya kenah

Sambal ini oleh masyarakat Dayak Maanyan disebut sambal  sarai kenah, biasanya sambal ini bukan sebagi hidangan pelengkap tapi hidangan utama, seperti layaknya otak-otak atau semur daging giling. Hidangan utama ini bahan dasarnya adalah serai (pilih yang mudah, besar dan gemuk gemuk agar mudah diiris setipis mungkin). Serai terlebih dahulu dibakar di atas bara untuk mengeluarkan aromanya, kemudian diiris setipis mungkin, haluskan dengan bawang merah, bawang putih, cabe rawit, yang telah digoreng bulat bulat plus terasi bakar sedikit, tambahkan garam dan gula atau sedikit MSG (ingat kalo pake MSG sedikitttttt aja ya?), setelah halus campur bahan tersbut dengan daging ikan panggang atau goreng yang telah dibuang tulangnya dengan perbandingan 1:1, aduk rata menggunakan dua sendok kecil. Lebih enak menggunakan ikan dari jenis yang tidak bersisik seperti ikan Baung, Tapah/tampahas, Lais, Patin sungai atau ikan lele. Sambal ini rasanya luar biasa…silakan buat sendiri pembaca he he>

  •     Sambal Tampuyak Ruyan/Permentasi Durian
Bahan dasar sambal ini adalah tempoyak atau tampuyak yaitu daging durian yang diawetkan dengan sedikit garam dan disimpan dalam stoples atau botol tertutup dalam jangka waktu tertentu.  Cara membuat sambal tampuyak sangat mudah, yaitu tampuyak digoreng dengan sedikit minyak goreng bersama irisan tipis bawang merah, cabe rawit, bawang putih sedikit, terasi sedikit, dan diberi garam (jangan diberi gula atau MSG karena rasanya sudah manis). Menggoreng sambal ini harus sambil terus diaduk sampai matang.
  •     Sambal ihem muda

Bahan dasarnya adalah ihem atau sejenis mangga hutan yang baunya khas yang masih muda, cara membuatnya sama dengan membuat sambal tmpuyak ruyan, namun tempuyaknya dig anti dengan ihem yang diparut halus, dan pada saat menggorengnya diberi terasi lebih banyak, garam dan gula atau MSG sedikit.

  •     Sambal teung asem

Bahan dasarnya adalah terung asam atau teung asem yang dalam bahasa Dayak Ngaju disebut rimbang. Namun untuk bahan sambal terung asam yang dipakai adalah dari jenis yang kecil atau berbuah kecil yang mempunya rasa dan aroma yang lebih tajam. Cara membuat sama dengan membuat sambalihem muda, hanya parutan ihem muda dig anti dengan teung asem yang diiris tipis tipis. Menggorengnya juga harus lebih lama samapi teung asemnya empuk.

  •     Sambal Binjai atau wennu

Sambal Binjai ini adalah sambal favorit saya, bahan dasarnya adalah binjai atau wennu’ yang sudah matang. Binjai adalah sejenis poho asam dengan batang yang besar dan tinggi, mempunyai buah lonjong besar dengan kulit berwarna off white sampai coklat, dagingya lunak menyerupai daging buah durian dengan warna putih susu.
Cara membuat sambalnya persis sama dengan membuat sambaltempuyak ruyan namun kompisisi terasinya lebih banyak dan diberi MSG sedikit (sedikit sekali ya?!). Perpaduan rasa pedas cabe rawit dengan rasa kecut binjai dan aroma terasi menimbulkan sensasi yang luar biasa di lidah. Perbanyak stok nasi anda jika makan dengan sambal ini,karena akan sangat membangkitkan selera..makan jadi lebih bergairah…

  •     Sambal tomat

Sambal ini sudah dikenal penduduk sedunia, namun masyarakat tradisional dayak Maanyan yang masih berladang menggunakan jenis tomat local yang buahnya kecil seperti buh cerry, aromanya sangat tajam dan rasanya lebih manis.

  •     Dadahan Acan atau terasi serai bakar

Bahannya adalah terasi dicampur dengan irisan tipis serai, Lombok dan garam. Dibuat adonan dan ditekan pelan2 pada cobek kayu. Kemudian di panggang di atas bara, di mana cobek dalam posisi terbalik kea rah bara api. Baunya harum dan enak sekali.

  •     Pansuk

Pansuk adalah jenis sambal yang berkuah untuk cocolan sayur rebus. Bahan yang sering di pakai adalah asam kandis atau kandris dibakar atau direbus, garam, terasi bakar, sedikit MSG,bawang merah iris, masukan dalam mangkok kecil dicampur air matang satu gelas, haluskan dengan menggunakan sendok kecil panjang, campur dengan daging ikan goreng atau panggang atau panggang kalok/na upuh (ikan dibakar dengan sisik sisiknya), aduk rata dan siap dihidangkan. Selain asam kandis juga bisa menggunakan sama ramunia yang dibakar atau buah rotan manau yang matang dipohonnya.


Karena saya jadi lapar, cukup sekian pembaca, selamat menikmati.